Hot Posts

8/recent/ticker-posts

10 Desa Paling Unik di Indonesia yang Mendunia, Dari Tradisi Pemakaman Trunyan hingga Warga Bermata Biru di Buton

 

10 desa unik

HERO JURNAL MEDIA, – JAKARTA – Indonesia dikenal sebagai negara kepulauan dengan ribuan suku bangsa, bahasa, serta budaya yang terus hidup hingga saat ini. Di balik keindahan alamnya, terdapat sejumlah desa yang menyimpan tradisi, arsitektur, hingga fenomena alam dan genetik yang sangat unik sehingga menarik perhatian wisatawan maupun peneliti dari berbagai negara.

Keunikan tersebut bukan sekadar cerita turun-temurun, tetapi masih dapat disaksikan secara langsung hingga sekarang. Mulai dari tradisi pemakaman tanpa dikubur di Bali, rumah adat tanpa paku di Flores, masyarakat yang mempertahankan gaya hidup tradisional di Banten, hingga fenomena warga bermata biru di Sulawesi Tenggara.

Selain menjadi daya tarik wisata budaya, keberadaan desa-desa ini juga menjadi bukti bahwa Indonesia memiliki kekayaan warisan budaya yang sangat beragam dan patut dijaga keberlangsungannya.

Berikut 10 desa unik di Indonesia yang memiliki ciri khas tersendiri.

1. Desa Trunyan, Bali: Tradisi Pemakaman Terbuka yang Mendunia

Di tepi Danau Batur, Kabupaten Bangli, Bali, terdapat Desa Trunyan yang dikenal dengan tradisi pemakamannya yang berbeda dari kebanyakan masyarakat Indonesia.

Jenazah warga tidak dikubur ataupun dikremasi, melainkan diletakkan di bawah pohon Taru Menyan. Pohon tersebut dipercaya mengeluarkan aroma alami yang mampu mengurangi bau pembusukan sehingga area pemakaman tetap nyaman dikunjungi.

Tradisi ini merupakan bagian dari adat masyarakat Bali Aga yang telah diwariskan selama ratusan tahun.

2. Dusun Kasuran, Yogyakarta: Tradisi Tidur Tanpa Kasur

Dusun Kasuran di Kabupaten Sleman memiliki kebiasaan unik, yaitu sebagian masyarakatnya memilih tidur menggunakan tikar atau dipan sederhana tanpa kasur empuk.

Tradisi tersebut berasal dari pesan leluhur yang masih dihormati hingga sekarang. Bagi masyarakat setempat, aturan adat ini merupakan bentuk penghormatan terhadap nilai-nilai budaya yang diwariskan turun-temurun.

Meski demikian, alasan kesehatan yang sering dikaitkan dengan tradisi ini masih berupa pandangan masyarakat dan belum menjadi kesimpulan ilmiah.

3. Tuban, Jawa Timur: Ampo, Kuliner Tradisional dari Tanah Liat

Kabupaten Tuban memiliki makanan tradisional bernama Ampo, yaitu camilan yang dibuat dari tanah liat khusus yang diproses melalui pembakaran.

Tradisi mengonsumsi Ampo telah berlangsung sejak lama dan menjadi bagian dari budaya lokal. Sebagian masyarakat memiliki berbagai kepercayaan mengenai manfaatnya, namun hingga kini klaim tersebut belum memperoleh pembuktian ilmiah yang memadai.

Kini Ampo lebih dikenal sebagai warisan kuliner tradisional yang unik dibandingkan sebagai makanan sehari-hari.

4. Wae Rebo, Flores: Kampung Adat di Atas Awan

Terletak di Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, Desa Wae Rebo terkenal dengan rumah adat Mbaru Niang yang berbentuk kerucut dan dibangun tanpa menggunakan paku.

Seluruh konstruksi memanfaatkan kayu, bambu, rotan, serta teknik ikatan tradisional yang telah diwariskan lintas generasi.

Keunikan arsitektur tersebut mengantarkan Wae Rebo meraih UNESCO Asia-Pacific Award for Cultural Heritage Conservation pada tahun 2012 sebagai bentuk apresiasi terhadap pelestarian warisan budaya.

5. Baduy Dalam, Banten: Menjaga Tradisi di Tengah Modernisasi

Masyarakat Baduy Dalam di Kabupaten Lebak memilih mempertahankan kehidupan sederhana dengan berpegang teguh pada aturan adat.

Penggunaan kendaraan bermotor, listrik, hingga perangkat elektronik dibatasi demi menjaga keseimbangan antara manusia dan alam.

Prinsip hidup sederhana inilah yang menjadikan kawasan Baduy sebagai salah satu destinasi wisata budaya paling terkenal di Indonesia.

6. Pulau Buton, Sulawesi Tenggara: Fenomena Mata Biru yang Langka

Sebagian warga di Pulau Buton memiliki warna mata biru yang menarik perhatian banyak peneliti.

Fenomena tersebut diketahui berkaitan dengan kondisi genetik yang dikenal sebagai Waardenburg Syndrome, yaitu kelainan bawaan yang memengaruhi pigmen tubuh.

Meskipun tergolong langka, masyarakat setempat tetap menjalani kehidupan secara normal dan menjadikan kondisi tersebut sebagai bagian dari identitas keluarga mereka.

7. Desa Sade, Lombok: Rumah Tradisional dengan Lantai Berlapis Kotoran Sapi

Desa Sade merupakan perkampungan adat Suku Sasak yang masih mempertahankan cara tradisional dalam merawat rumah.

Lantai rumah adat secara berkala dilapisi campuran tanah dan kotoran sapi yang telah diolah.

Menurut masyarakat setempat, cara tersebut membuat lantai menjadi lebih padat, tidak mudah berdebu, sekaligus membantu mengurangi gangguan serangga.

Tradisi ini masih dipertahankan sebagai bagian dari identitas budaya masyarakat Sasak.

8. Dusun Ulutawe, Sulawesi Selatan: Fenomena Genetik yang Menjadi Perhatian

Dusun Ulutawe dikenal karena ditemukannya beberapa warga yang mengalami kondisi Ektrodaktili, yaitu kelainan bawaan pada jari tangan maupun kaki.

Dulu kondisi tersebut sering dikaitkan dengan cerita adat, namun kini para tenaga medis menjelaskan bahwa penyebabnya berasal dari faktor genetik.

Pemerintah bersama tenaga kesehatan terus memberikan edukasi agar masyarakat memperoleh pemahaman yang benar mengenai kondisi tersebut.

9. Desa Kemiren, Banyuwangi: Tradisi Kawin Colong Suku Osing

Masyarakat Suku Osing di Desa Kemiren memiliki tradisi Kawin Colong, yaitu proses membawa calon mempelai perempuan sebagai bagian dari mekanisme adat ketika terjadi kendala dalam memperoleh restu keluarga.

Tradisi ini memiliki aturan yang ketat dan selalu diakhiri dengan musyawarah antar keluarga sebelum pernikahan dilangsungkan secara resmi.

Bagi masyarakat Osing, tradisi tersebut merupakan bagian dari sistem adat yang telah berlangsung turun-temurun.

10. Kawasan Teluk Cenderawasih, Papua: Desa dengan Curah Hujan Tinggi

Beberapa desa di sekitar Teluk Cenderawasih dikenal memiliki curah hujan yang relatif tinggi sepanjang tahun karena dipengaruhi kondisi geografis serta kelembapan udara.

Fenomena ini menciptakan lingkungan yang hijau, udara yang sejuk, serta ekosistem yang sangat kaya.

Keindahan alam kawasan tersebut menjadi daya tarik wisata sekaligus lokasi penelitian mengenai iklim tropis Indonesia.

Indonesia Kaya Akan Keberagaman Budaya

Keberadaan desa-desa unik tersebut memperlihatkan bahwa Indonesia bukan hanya kaya akan sumber daya alam, tetapi juga memiliki warisan budaya yang luar biasa.

Di tengah perkembangan teknologi modern, masyarakat di berbagai daerah tetap mampu mempertahankan adat istiadat yang diwariskan para leluhur tanpa kehilangan identitas mereka.

Pelestarian budaya lokal menjadi bagian penting dalam menjaga keberagaman bangsa sekaligus mendukung pengembangan pariwisata berbasis budaya yang berkelanjutan.

Perkembangan Terbaru

Pemerintah melalui Kementerian Kebudayaan, Kementerian Pariwisata, dan pemerintah daerah terus mendorong pengembangan desa-desa adat sebagai destinasi wisata budaya. Program tersebut difokuskan pada pelestarian tradisi, pemberdayaan masyarakat lokal, serta penguatan ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal.

Sejumlah desa seperti Wae Rebo, Baduy, Trunyan, Kemiren, dan Sade kini menjadi tujuan wisata edukasi yang diminati wisatawan domestik maupun mancanegara. Pengembangan dilakukan dengan tetap mengutamakan pelestarian nilai adat, sehingga tradisi yang telah diwariskan selama ratusan tahun dapat terus lestari di tengah arus modernisasi.(hjm)

Referensi
Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia
Kementerian Pariwisata Republik Indonesia
UNESCO Asia-Pacific Awards for Cultural Heritage Conservation
Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK)
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)
Jurnal Antropologi Indonesia 
BMKG (untuk informasi iklim kawasan Papua)

Posting Komentar

0 Komentar