Hot Posts

8/recent/ticker-posts

Sedekah dan Ruang Kosong: Meluaskan Rezeki dalam Kehidupan

 

HERO JURNAL MEDIA,- Kita sudah saatnya berhenti merengek meminta rezeki kepada Allah. Karena sesungguhnya Allah selalu SIAP setiap saat menurunkan rezeki-Nya kepada siapa saja yang mampu menyediakan WADAH.

Yang perlu segera kita lakukan bukanlah sekadar meminta, tetapi menyediakan wadah yang luas untuk kedatangan rezeki-Nya. Wadah itu bukan hanya berupa materi, melainkan RUANG KOSONG dalam diri kita.

Coba perhatikan angka: 10, 100, 1.000, 10.000, 100.000, 1.000.000, dan seterusnya. Semakin banyak angka nol, atau semakin besar kekosongannya, maka nilainya pun semakin besar.

Memberi satu gelas beras, nolnya hanya satu. Memberi satu karung beras, nolnya bisa enam. Ketika kosongnya satu, wadahnya hanya gelas. Ketika kosongnya enam, wadahnya bisa sebesar danau.

Yang menyediakan wadah sebesar gelas, akan diisi rezeki segelas. Yang mengosongkan wadah sebesar danau, akan diisi rezeki sedanau.

Semesta ini pada awalnya adalah KOSONG (NOL). Namun dalam kekosongan itu, satu-satunya yang ada adalah DIA (SATU). Maka sesungguhnya:

DALAM KOSONG ITU ADA ISI, dan DALAM ISI ITU ADA KOSONG.

Cobalah mengosongkan wadah seluas ruang, maka ruang yang luas akan mampu menampung lebih banyak. Rumah seharga Rp1.000.000.000 dengan rumah Rp10.000.000.000 pada hakikatnya hanya berbeda satu nol. Namun satu nol itu menghadirkan ruang yang jauh lebih luas. 

Dan terbukti, rumah yang lebih besar mampu menampung lebih banyak isi.

Makin banyak KOSONGNYA, makin banyak ISINYA.

Perhatikan orang yang belajar ilmu tetapi merasa dirinya sudah penuh. Ilmu hanya lewat begitu saja, tanpa bekas. Namun orang yang belajar dengan mengosongkan diri di hadapan seorang mursyid, ia akan mendapatkan berkah ilmu yang luar biasa.

Orang yang merasa penuh akan sulit mendengar. Ia hanya ingin didengar, hingga akhirnya jatuh pada kesombongan.

Karena itu, puncak kebijaksanaan adalah menyadari bahwa kita tidak tahu—alias KOSONG.

Dan dari situlah kita memahami bahwa MENDENGAR adalah kunci HIDAYAH.

Dalam konsep sedekah, hukum ini berlaku sangat jelas.

Jika kita memberi satu dan berharap satu, maka kita hanya akan menerima satu.

Karena 1 dibagi 1 = 1.

Namun jika kita memberi satu dan tidak berharap apa-apa, maka kita akan menerima tak terhingga.

Karena dalam makna spiritual:

1 dibagi 0 = TAK TERHINGGA.

Maka setelah kita memberi, segera lupakan pemberian itu. Jangan diingat-ingat, jangan dilekatkan. Segeralah kembali menjadi kosong, karena semesta ini pun berawal dari kekosongan.

Dalam Q.S. Al-Mujadillah ayat 12–13, dijelaskan bahwa jika kita ingin mendapatkan ilmu khusus dari para rasul, maka kita dianjurkan untuk bersedekah sebelum pembicaraan itu dimulai.

Apa maknanya?

Kita harus menyediakan ruang kosong. Kosong dari keterikatan terhadap harta, kosong dari rasa memiliki yang berlebihan. Dengan begitu, ilmu yang kita terima menjadi berkah dan membawa perubahan dalam diri.

Kesadaran kita pun akan berubah, hingga lahirlah sikap:

“Sami’na wa atho’na” — kami mendengar dan kami taat.

Orang yang telah kosong akan berkata:

“Aku mendengar dan aku taat.”

Ia patuh dan berbakti kepada penuntun jalan. Maka ia akan selamat dalam perjalanan dan sampai pada tujuan.

Pada akhirnya, semua makhluk hidup akan menuju kebahagiaan, terbebas dari penderitaan, ketika mampu mengosongkan diri dan meluaskan wadahnya. (hjm)

Rahayu Sagung Dumadi
Bumi Spiritual Indonesia
Salam Rindu

Oleh : Syaiful Karim


Posting Komentar

0 Komentar