Hot Posts

8/recent/ticker-posts

Dedi Mulyadi Minta Pendakian Gunung di Jabar Ditunda, Karhutla Capai 196 Hektare

0 Dedi Mulyadi Minta Pendakian Ditunda

HERO JURNAL MEDIA,-  BANDUNG — Pemerintah daerah di Jawa Barat diminta memperketat langkah pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menyusul meningkatnya risiko kebakaran selama musim kemarau. Salah satu langkah yang didorong Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi adalah menunda sementara aktivitas pendakian di sejumlah kawasan gunung, khususnya di Kabupaten Cianjur dan Kabupaten Bogor.

Dedi meminta pemerintah kabupaten segera mempertimbangkan penutupan sementara jalur pendakian. Menurutnya, kebijakan tersebut diperlukan sebagai langkah antisipasi mengingat kondisi cuaca panas dan kering dapat membuat api lebih mudah menyebar.

“Bupati Cianjur dan bupati Bogor, serta daerah-daerah yang gunungnya digunakan untuk dilakukan kegiatan panjat gunung, sebaiknya ditunda dahulu sementara,” kata Dedi di Bandung, Minggu (30/8).

Puntung Rokok Jadi Ancaman

Dedi menilai ancaman karhutla tidak hanya berasal dari kondisi alam. Aktivitas manusia juga menjadi salah satu faktor yang harus mendapat perhatian serius.

Ia menyoroti kebiasaan sebagian pendaki yang membawa rokok dan menggunakan api selama berada di kawasan gunung. Dalam kondisi vegetasi kering, bara atau puntung rokok yang dibuang sembarangan berpotensi memicu kebakaran.

Menurut Dedi, pencegahan perlu dilakukan sejak awal karena tidak semua pengunjung memiliki tingkat kedisiplinan yang sama dalam menjaga lingkungan.

“Karena banyak orang yang manjat gunung itu, itu bawa rokok dan bakar. Nah, sementaralah, karena bikin bakar saja enggak terkendali jadi kebakaran. Sementara ini, menurut saya tunda dahulu, karena tidak semua orang disiplin,” ujarnya.

Langkah penundaan aktivitas pendakian tersebut dinilai sebagai bentuk mitigasi untuk mengurangi potensi munculnya sumber api di kawasan yang memiliki tingkat kerawanan tinggi selama musim kemarau.

TPA Juga Diminta Diperketat

Selain kawasan gunung dan hutan, Dedi mengingatkan pemerintah kabupaten dan kota agar meningkatkan pengawasan di area Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) sampah.

Menurutnya, lingkungan TPA juga memiliki potensi mengalami kebakaran, terutama ketika kondisi cuaca panas dan material yang mudah terbakar berada dalam kondisi kering.

Karena itu, pemerintah daerah diminta membatasi aktivitas yang berpotensi menimbulkan api di sekitar lokasi TPA.

“Kalau TPA, kan, bupati-bupatinya harus segera tanggap di lingkungan TPA-nya masing-masing. Kalau menurut saya, sih, hindarkan orang bawa korek api dan rokok ke tempat TPA,” kata Dedi.

Imbauan tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas mitigasi karhutla, tidak hanya di kawasan hutan dan perkebunan, tetapi juga di lokasi-lokasi yang memiliki potensi menjadi sumber kebakaran.

Karhutla Jabar Capai 132 Kejadian

Kekhawatiran tersebut sejalan dengan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Barat. Hingga 24 Agustus 2026, tercatat 132 kejadian karhutla yang tersebar di 91 kecamatan dan 153 desa atau kelurahan.

Total lahan yang terdampak kebakaran mencapai 196,40 hektare.

Pranata Humas BPBD Jawa Barat Hadi Rahmat mengatakan kebakaran terjadi di sejumlah wilayah dengan tingkat dampak yang berbeda-beda.

“Hingga akhir Agustus ini, tercatat ada 132 kejadian karhutla di Jawa Barat. Kabupaten Sumedang menjadi daerah dengan insiden terbanyak, yakni 20 kejadian yang membakar 21,68 hektare lahan di 11 kecamatan dan 21 desa,” ujar Hadi saat dikonfirmasi, Rabu (26/8).

Kabupaten Sumedang tercatat sebagai wilayah dengan jumlah kejadian paling tinggi. Namun, jika dilihat dari luas lahan yang terbakar, Kabupaten Sukabumi menjadi daerah dengan dampak paling besar.

Sukabumi Catat Kebakaran Terluas

BPBD Jawa Barat mencatat 12 kejadian karhutla di Kabupaten Sukabumi yang tersebar di 11 kecamatan dan 15 desa. Luas area yang terbakar mencapai 49,20 hektare.

Hadi menjelaskan, kondisi kemarau dan kekeringan menjadi salah satu faktor yang membuat api lebih mudah meluas, terutama di kawasan perkebunan dan hutan di wilayah Jawa Barat bagian selatan.

 “Untuk dampak kerusakan lahan terluas terjadi di Kabupaten Sukabumi. Dari 12 kejadian yang tersebar di 11 kecamatan dan 15 desa, total area yang terbakar mencapai 49,20 hektare,” jelasnya.

Selain Sumedang dan Sukabumi, sejumlah wilayah lain juga mencatat kejadian karhutla dalam jumlah cukup tinggi.

Kabupaten Majalengka mengalami 15 kejadian dengan luas lahan terbakar mencapai 25,91 hektare. Selanjutnya Kabupaten Kuningan mencatat 10 kejadian dengan luas 23,80 hektare, sedangkan Kabupaten Cirebon mengalami delapan kejadian dengan luas lahan terbakar 20,73 hektare.

Kabupaten Bandung juga mencatat 13 kejadian dengan luas area terdampak 16,80 hektare. Sementara itu, Kabupaten Subang mengalami 11 kejadian dengan luas 9,53 hektare dan Kabupaten Purwakarta mencatat 10 kejadian dengan luas 8,22 hektare.

Api Mulai Menjangkau Kawasan Perkotaan

Ancaman kebakaran tidak hanya terjadi di wilayah kabupaten yang memiliki kawasan hutan dan perkebunan. BPBD Jawa Barat juga menemukan kejadian karhutla di sejumlah wilayah perkotaan.

Kota Sukabumi, Kota Bandung dan Kota Depok termasuk daerah yang turut mengalami kejadian kebakaran, meskipun skalanya lebih kecil dibandingkan wilayah lain.

“Tak hanya kabupaten, pergerakan api turut merembet ke kawasan perkotaan, seperti Kota Sukabumi, Kota Bandung, dan Kota Depok meski dalam skala yang lebih kecil,” ujar Hadi.

Data BPBD per 10 Agustus 2026 sebelumnya mencatat 90 kejadian karhutla di 72 kecamatan di Jawa Barat. Saat itu, Sumedang menjadi daerah dengan kasus terbanyak dengan 16 kejadian, disusul Majalengka sebanyak 11 kejadian dan Bandung delapan kejadian.

Perkembangan data tersebut menunjukkan adanya peningkatan jumlah kejadian hingga akhir Agustus. Kondisi ini menjadi perhatian karena musim kemarau dapat meningkatkan kerentanan lahan terhadap kebakaran.

Karena itu, imbauan untuk menunda pendakian di kawasan rawan, membatasi penggunaan api serta memperketat pengawasan di TPA menjadi bagian dari langkah pencegahan yang perlu dilakukan bersama.

Pemerintah daerah, pengelola kawasan, pendaki dan masyarakat memiliki peran penting untuk mencegah munculnya sumber api. Terlebih, ketika kondisi lahan semakin kering, kebakaran kecil sekalipun dapat berkembang menjadi karhutla yang sulit dikendalikan. (hjm)


#bandung #jawabarat #karhutla #dedimulyadi #cianjur #sukabumi

👁️ viewed 800