Hot Posts

8/recent/ticker-posts

Rupiah Masih Tertekan di Level Rp17.900 per Dolar AS, Ekonom Sebut Kenaikan BI Rate Belum Cukup

 

HERO JURNAL MEDIA,- JAKARTA  – Meski Bank Indonesia (BI) telah menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 100 basis poin (bps) dalam beberapa bulan terakhir, tekanan terhadap nilai tukar rupiah belum juga mereda. Mata uang Garuda masih bergerak di kisaran Rp17.900 per dolar Amerika Serikat (AS) , menandakan bahwa tantangan yang dihadapi berasal dari faktor-faktor yang lebih kompleks dibandingkan sekadar kebijakan suku bunga.

Sejak April 2026, BI secara bertahap menaikkan BI Rate dari 4,75 persen menjadi 5,75 persen per 18 Juni 2026 sebagai upaya menjaga stabilitas nilai tukar dan mengendalikan tekanan eksternal. Namun langkah tersebut belum mampu mendorong penguatan rupiah secara signifikan.

Berdasarkan data Bloomberg pada Kamis (25/6/2026), nilai tukar rupiah di pasar spot berada di level Rp17.949 per dolar AS , atau menguat tipis sekitar 0,02 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya.

Faktor Eksternal Dinilai Lebih Dominan

Kepala Pusat Makro Ekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef), M Rizal Taufikurahman , menilai pelemahan rupiah lebih banyak dipengaruhi sentimen global dibandingkan selisih tingkat suku bunga.

Menurutnya, kondisi perekonomian dunia, tingginya harga energi, arus keluar modal asing ( capital outflow ), hingga meningkatnya kekhawatiran terhadap kondisi fiskal nasional menjadi faktor utama yang menekan nilai tukar rupiah.

Selain itu, persepsi investor terhadap kebijakan ekonomi domestik juga masih menjadi perhatian sehingga permintaan terhadap dolar AS tetap tinggi.

Ancaman Penurunan Status pada Indeks MSCI

Rizal juga menyoroti potensi penurunan status Indonesia dalam indeks MSCI yang dinilai dapat menjadi sentimen negatif bagi pasar keuangan.

Apabila hal tersebut terjadi, tidak mungkin akan terjadi peningkatan arus keluar dana asing dari pasar modal Indonesia yang pada akhirnya meningkatkan tekanan terhadap nilai tukar rupiah.

Oleh karena itu, menurutnya, menjaga stabilitas rupiah tidak cukup hanya melalui kenaikan suku bunga acuan.

BI Perlu Maksimalkan Instrumen Lain

Selain BI Rate, Bank Indonesia dinilai perlu mengoptimalkan berbagai instrumen stabilisasi yang dimiliki.

Instrumen tersebut antara lain intervensi di pasar valuta asing, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) , serta optimalisasi Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) , Sekuritas Valas Bank Indonesia (SVBI) , dan Sukuk Valas Bank Indonesia (SUVBI) .

Di sisi lain, penerapan kebijakan Devisa Hasil Ekspor (DHE) juga dinilai harus berjalan efektif agar pasokan valuta asing di dalam negeri tetap terjaga dan mampu menopang kebutuhan pasar.

Pelemahan Rupiah Berpotensi Memicu Sejumlah Risiko

Apabila rupiah bertahan dalam posisi lemah untuk waktu yang lebih lama, sejumlah dampak ekonomi yang diperkirakan akan semakin terasa.

Mulai dari kenaikan inflasi akibat kenaikan harga barang impor ( inflasi impor ), naiknya biaya bahan baku industri, bertambahnya beban subsidi energi, hingga meningkatnya kewajiban pembayaran utang luar negeri bagi pemerintah maupun dunia usaha.

Sektor-sektor yang paling rentan terhadap pelemahan rupiah antara lain industri energi, farmasi, manufaktur yang bergantung pada bahan baku impor, sektor pangan impor, penerbangan, serta perusahaan dengan utang dalam mata uang asing namun pendapatannya didominasi rupiah.

Rupiah Diperkirakan Masih Berfluktuasi

Memasuki semester kedua tahun 2026, pergerakan rupiah diperkirakan masih dibayangi volatilitas tinggi.

Indef memperkirakan nilai tukar rupiah berpotensi bergerak di kisaran Rp17.500 hingga Rp18.200 per dolar AS , tergantung perkembangan kondisi ekonomi global dan arus modal internasional.

Peluang perolehan rupiah diperkirakan akan terbuka apabila harga minyak dunia mulai stabil, investasi asing kembali masuk ke Indonesia, serta kepercayaan investor terhadap kondisi fiskal nasional semakin meningkat.(hjm)


Posting Komentar

0 Komentar