Hot Posts

8/recent/ticker-posts

Grebeg Maulud Keraton Solo Diwarnai Ketegangan Dua Kubu, Sempat Muncul Dugaan Sabotase

0 Grebeg Maulud Keraton Solo Diwarnai Ketegangan Dua Kubu Sempat Muncul Dugaan Sabotase

HERO JURNAL MEDIA,- SOLO SURAKARTA — Pelaksanaan Grebeg Maulud di Keraton Kasunanan Surakarta, Solo, Rabu (26/8/2026), berlangsung di tengah ketegangan antara dua kubu yang sama-sama menggelar prosesi adat.

Prosesi yang menjadi bagian dari peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW tersebut diwarnai adu mulut antarpihak pendukung serta dugaan adanya kendala yang disebut sebagai bentuk sabotase.

Ketegangan muncul setelah kubu Sinuhun Pakubuwono XIV Hangabehi dan kubu Sinuhun Pakubuwono XIV Purboyo melaksanakan pemberangkatan gunungan secara berurutan.

Kubu Hangabehi terlebih dahulu memberangkatkan dua pasang gunungan. Setelah itu, prosesi serupa dilakukan oleh kubu Purboyo dengan membawa dua pasang gunungan.

Situasi kemudian memanas setelah prosesi dari kubu Purboyo berlangsung.

Adu Mulut Warnai Prosesi

Ketegangan terjadi di Sasana Handrawina dan melibatkan Pengageng Sasana Wilapa PB XIV Hangabehi, GKR Koes Moertiyah Wandansari, dengan abdi dalem niaga dari kubu Sinuhun Purboyo.

Adik GKRP Timoer, GKR Dewi Ratih Widyasari, kemudian datang ke lokasi dan disebut ikut membela abdi dalem dari pihak Purboyo.

Pengageng Sasana Wilapa PB XIV Purboyo, GKRP Timoer Rumbay Kusuma Dewayani, mengatakan kedatangan GKR Dewi Ratih dilakukan untuk meredakan situasi setelah terjadi tindakan yang dinilai mengintimidasi pihaknya.

“Gusti Moeng tiba-tiba mendatangi niaga kami karena sering mengintimidasi dan marah-marah. Gusti Ratih kemudian menghalau,” ujar Timoer, Rabu (26/8/2026).

Menurut Timoer, pihaknya merasa prosesi yang digelar kubu Purboyo seharusnya tidak diganggu karena masing-masing kubu menjalankan kegiatan sendiri.

Situasi semakin mencolok ketika sejumlah pendukung kubu Purboyo melakukan tepuk tangan setelah terjadi ketegangan tersebut.

Timoer menyebut aksi tepuk tangan itu muncul sebagai respons terhadap suasana yang memanas saat prosesi belum sepenuhnya selesai.

Kubu Purboyo Klaim Gamelan Tak Bisa Digunakan

Sebelum perselisihan terjadi, pihak Purboyo mengaku menghadapi persoalan lain dalam persiapan Grebeg Maulud.

Sejumlah pemukul gamelan yang diperlukan untuk mengiringi prosesi disebut tiba-tiba tidak berada di tempat. Kondisi tersebut membuat pihak Purboyo harus mencari alternatif agar prosesi tetap dapat berjalan.

Timoer menduga hilangnya perangkat untuk menabuh gamelan tersebut merupakan bentuk sabotase.

Ia menyebut pemukul untuk Gamelan Monggang, Carabalen, serta sejumlah gamelan sakral yang berada di Paningrat tidak ditemukan ketika hendak digunakan.

“Semua yang Monggang, Carabalen, dan gamelan yang ada di Paningrat tidak ada tabuhannya,” ungkap Timoer.

Untuk mengantisipasi persoalan tersebut, kubu Purboyo akhirnya menggunakan Gamelan Carabalen untuk mengiringi rangkaian Grebeg Maulud.

Sementara itu, kubu Hangabehi menggunakan Gamelan Kyai Guntur Sari yang berada di Bangsal Sekaten.

Timoer mengatakan pihaknya telah melakukan persiapan untuk menghadapi kemungkinan kendala sehingga prosesi dari kubu Purboyo tetap dapat dilaksanakan.

Kubu Hangabehi Ungkap Alasan Berangkat Lebih Dulu

Dari pihak lainnya, GKR Wandansari membenarkan bahwa kubu Hangabehi sengaja memberangkatkan gunungan lebih awal.

Menurutnya, keputusan tersebut sudah direncanakan sejak malam sebelumnya. Langkah itu disebut dilakukan untuk mengantisipasi munculnya persoalan ketika dua prosesi berlangsung berdekatan.

“Kami mulai lebih dulu. Sudah sejak semalam saya sampaikan begitu. Daripada nanti justru menjadi masalah,” ujar Wandansari.

Wandansari juga menyampaikan harapannya agar kubu Purboyo tidak lagi menggelar prosesi adat serupa pada Grebeg Maulud tahun mendatang.

Ia menilai kubu Purboyo perlu terlebih dahulu menunjukkan status dan identitasnya sebagai putra Sinuhun Pakubuwono XIII apabila ingin memperoleh hak untuk menjalankan prosesi adat di lingkungan Keraton Solo.

Persoalan Internal Keraton Kembali Mencuat

Ketegangan saat Grebeg Maulud tersebut memperlihatkan kembali adanya persoalan internal di lingkungan Keraton Kasunanan Surakarta.

Dua pihak yang sama-sama mengatasnamakan keluarga dan lingkungan keraton menjalankan prosesi secara beriringan. Kondisi tersebut kemudian memunculkan gesekan di lapangan, mulai dari perbedaan pengaturan prosesi hingga persoalan perangkat gamelan.

Di tengah situasi itu, masing-masing pihak menyampaikan versinya mengenai penyebab ketegangan.

Kubu Purboyo menyoroti dugaan intimidasi serta hilangnya perangkat pemukul gamelan yang mereka nilai mencurigakan. Sementara kubu Hangabehi menekankan pentingnya pengaturan urutan prosesi untuk mencegah terjadinya konflik.

Wandansari bahkan menyebut persoalan mengenai status Purboyo masih perlu dibuktikan. Ia meminta adanya pembuktian identitas, termasuk melalui tes DNA, jika pihak tersebut tetap ingin memperjuangkan hak dalam pelaksanaan prosesi adat keraton.

“Kalau mereka tetap bersikeras, mereka harus menunjukkan identitas yang sebenarnya dengan tes DNA,” kata Wandansari.

Ketegangan tersebut akhirnya menjadi bagian dari dinamika pelaksanaan Grebeg Maulud 2026 di Keraton Kasunanan Surakarta. Meski terjadi perselisihan antarpihak, masing-masing kubu tetap melaksanakan prosesi pemberangkatan gunungan sesuai rencana mereka. (hjm)

👁️ viewed 800